DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH
Terjemah dan layout:
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIEM.
Segala puji hanya milik Allah semata, Tuhan sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada makhluk Allah termulia, segenap sahabat dan semua keluarganya. wa-ba’du:
AlQur’anul karim adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diwahyukan kepada nabi dan utusan terakhir Muhammad r, terpelihara dalam mushaf yang mulia, berbahasa Arab dan terpelihara secara sempurna. Allah Ta'ala berfirman:
]إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ[ الحجر:9
“Sungguh, Kami telah menurunkan AlQur’an dan Kami benar-benar senantiasa memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).
Sementara nas-nas wahyu yang termaktub dalam kitab-kitab sebelumnya telah mengalami penyelewengan. Adakalanya hilang sama sekali atau sekedar beberapa perubahan -dari sebagian pengikutnya sendiri dengan berbagai tujuan, pent- yang menjadikan keluar dari bingkai Robbani (ketuhanan) dan akhirnya tidak mampu memberikan hidayah kepada manusia.
I’jazul Qur’an
I’jaz di sini berarti, ketidak mampuan seluruh makhluk untuk mendatangkan sebagian saja yang menyamai AlQur’an. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat:
]وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ[ البقرة: 23-24
“Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuat (nya) dan pasti kalian tak akan dapat membuat (nya), peliharalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)
Karena AlQur'an itu merupakan kalam Allah, maka jelas tidak sama dengan ucapan manusia. Berbeda dalam berbagai keistimewaan yang menjadikan manusia tidak kuasa menyainginya, baik dari segi kesempurnaan dan integralitasnya, daya liputnya, kehebatan cara pengungkapan, keindahan untaian katanya, isyaratnya yang mengagumkan dan validitas beritanya dalam setiap masalah yang dibawakannya. Semua kandungan AlQur'an itu adalah haq, tiada kebatilan dan kesalahan yang bisa menghinggapinya dari arah mana saja. Seluruh manusia tak akan mampu mengemukakan masalah sebanyak itu seperti AlQur'an tanpa salah sedikitpun, baik dalam segi ethimologinya, redaksi, kandungan dan obyeknya. Ini semua adalah yang dimaksud dengan ungkapan “i’jazul qur’an.”
I’jaz Ilmi
Sedangkan yang dimaksud dengan i’jaz ilmi adalah terjadinya kecocokan antara realita ilmiyah dengan nas-nas kauniyah yang termaktub dalam AlQur'an dan Hadits. Allah Ta'ala berfirman:
]سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ[ فصلت:53
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar” (QS. Fusshilat: 53).
Dahulu, arti AlQur'an telah dipahami oleh para sahabat, hanya saja mereka belum mengetahui sebagian bentuk kongkritnya. Padahal Allah telah menjanjikan akan menyingkap hal tersebut di kemudian hari.
Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, saat saya membaca ayat surat AlQomar:
]سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ[ القمر:45
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” hati saya berkata: “Kelompok mana yang akan terkalahkan? Dan bagaimana mereka mundur ke belakang? Ketika saya melihat Rasulullah r melompat dengan perlengkapan baju besinya pada perang Badar dan melantunkan ayat tersebut. Maka saya baru tahu, kelompok mana itu dan bagaimana mereka mundur. Sungguh Umar telah mampu menyingkap misteri arti ayat tersebut dengan luas yang belum diketahuinya saat turun pertama kalinya. Ini merupakan realisasi dari ayat:
]إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ * وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ[ ص:87-88
“Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita AlQur'an setelah beberapa waktu lagi.” (QS. Shod: 87-88)
Ketika kita memikirkan arti ayat-ayat AlQur'an sebagai bentuk kepatuhan perintah ayat:
]أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا[ محمد:24
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan AlQur'an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24), maka akan kita temukan lebih dari 1000 ayat yang memuat isyarat jagad raya yang belum diketahui manusia di era wahyu turun. Juga masa beberapa abad setelahnya. Bentuk-bentuk kongkritnya baru diketahui di era kemajuan ilmiyah belakangan ini. Hal ini untuk membuktikan kebenaran risalah Rasulullah Muhammad r setelah 14 abad berlalu.
Allah Ta'ala berfirman:
]وَآيَةٌ لَّهُمْ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ[ يس:37
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS. Yasin: 37)
Realita ilmiyah:
Pada tahun 1961 kosmonot Rusia Yuri Gagarin orang pertama yang terbang ke luar angkasa, amat tercengang saat melihat keluar jendela pesawatnya yang di dominasi kegelapan menyelimuti jagad raya ini. Bahkan matahari dan seluruh planet juga sama. Sungguh dia amat tercengang lagi ketika mendapati lapisan siang hanya sebuah lingkaran tipis sekitar 200 mil yang mengelilingi bumi. Padahal jarak antara bumi dan matahari ditaksir sekitar 150.000.000 km.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala mengemukakan tindakan agungNya kepada para kaum pembangkang yang lupa dan seluruh manusia, sebuah ayat kauniyah yang amat mena’jubkan. Mereka belum tahu kecuali setelah naik ke luar angkasa pada pertengahan abad 20 yang lalu. Allah Ta'ala berfirman menerangkan kegelapan yang menyelimuti jagad raya dengan ungkapan “malam” yang merupakan asal dan menyebutkan siang dengan ungkapan lapisan tipis yang mengelupas dari malam. Hal itu seperti lapisan kulit binatang yang terlepas saat dikuliti. Perkara inilah yang telah disingkap secara ilmiyah dan terbukti bahwa siang itu adalah lapisan cahaya tipis yang tersembunyi dan terkelupas dari gelap gulita yang terus menerus akibat gerak rotasi bumi di angkasa persis seperti terkelupasnya kulit hewan dari badannya. Allah meneguhkannya lagi dalam ayat yang lain:
]يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ[ الرعد:3
“Allah menutupkan malam kepada siang.” (QS. Ar-Ro’d: 3)
Demikian pula Allah menjelaskan kepada kita, kegelapan jagad raya yang akan kita saksikan dengan mata telanjang jika kita naik ke luar angkasa dalam ayat:
]وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ السَّمَاء فَظَلُّواْ فِيهِ يَعْرُجُون * لَقَالُواْ إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُورُونَ[ الحجر:14-15
“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir”.” (QS. Al-Hijr: 14-15)
Sungguh Allah Maha Suci yang telah berfirman:
]وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ[ سبأ:6
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Saba’: 6)
Allah Ta'ala berfirman:
]إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا[ النساء: 56
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 56)
Realita ilmiyah:
Temuan ilmiyah modern menyingkap rahasia, bahwa pangkalan-pangkalan urat khusus yang merasakan panas dan rasa sakit saat terbakar hanya terdapat di kulit. Sebelum ditemukan mikroskop dan kemajuan ilmu bedah, manusia belum mengetahui realita ilmiyah ini. Karena kepercayaan yang sudah populer sejak berabad-abad lalu adalah, bahwa seluruh badan merasakan rasa sakit tersebut.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala mengancam kaum kafir lewat ayat-ayatNya dengan api neraka. Dia juga menjelaskan, bahwa setiap kulit mereka matang maka Dia akan menggantinya lagi kulit lain yang baru. Agar mereka merasakan siksaan panas api neraka. Ancaman tersebut datang dari Allah yang Maha Mengetahui:
]أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ[ الماك:14
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14).
Hal itu juga untuk mengancam orang-orang kafir dewasa ini. Mereka telah menemukan ilmu anatomi dan bedah tubuh modern yang menyingkap bahwa pangkalan saraf perasa yang amat lebat hanya terdapat di kulit. Jika kulit tersebut terbakar, maka pemiliknya tidak merasakan rasa panas dan terbakar. Ancaman ini, juga bentuk lain yang mengukuhkan kebenaran risalah Nabi kita Muhammad r. Karena susunan kulit dan pangkalan saraf perasa secara detail belum tersingkap kecuali di era belakangan ini.
Allah Ta'ala berfirman:
]تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاء بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا[ الفرقان: 61
“Maha Suci Allah yang telah menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (QS. Al-Furqan: 61)
Realita ilmiyah:
Ilmu astronomi modern telah menyingkap –utamanya pasca ditemukan teleskop elektron, fotometri dan spektroskop- bahwasanya bintang itu adalah benda langit yang memancarkan cahaya dan mengeluarkan energi sendiri. Sedangkan planet dan penyertanya adalah benda langit yang memantulkan cahaya yang diterimanya dari beberapa bintang dan matahari.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala menyifati matahari dan bulan dengan predikat yang berbeda. Dua predikat berbeda tersebut hanya tersingkap realitanya pada beberapa tahun belakangan. Dalam beberapa ayat, Allah menyifati matahari dengan siraj, wahhaj dan dhiya’ (lampu, menyala dan sinar terang benderang). Semua sifat ini sesuai dengan temuan ilmiyah modern tentang hakekat matahari yang sebenarnya. Yakni, matahari itu ialah benda langit yang memancarkan sinar terang dan mengeluarkan energi dengan sendirinya. Sedangkan bulan disifati dengan kata, munir dan nur (bercahaya). Predikat ini tidak meleset sedikitpun dengan temuan ilmiyah modern, bahwa bulan itu adalah planet penyerta bumi yang tidak mengeluarkan sinar sendiri. Akan tetapi ia hanya memantulkan sinar yang diterimanya. Maha Suci Allah Ta'ala yang berfirman yang artinya:
]هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ[ إبراهيم:52
“(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim: 52)
Allah Ta'ala berfirman:
]وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ[ الطارق: 12
“dan demi bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan.” (QS. At-Thariq: 61) Sementara At-Thabari mengambil riwayat dari Mujahid dan Al-Hasan, dzatus shod’i berarti yang memiliki retakan.
Realita ilmiyah:
Pasca perang dunia kedua, para pakar oceanografi mulai mempelajari dasar lautan. Mereka mendapatkan suatu hal yang sangat mencengangkan. Ternyata mayoritas dasar samudra itu adalah retak dengan jaringan mahaluas yang panjang dan lebar retakannya mencapai ratusan ribu kilometer dengan rata-rata kedalaman 100 km. Dan yang lebih menghebohkan lagi, bahwa semua retakan dan koyakan tersebut saling berkaitan satu sama lain seperti halnya sebuah retakan saja.
Para pakar geologi mengatakan, jika saja retakan-retakan tersebut tidak ada niscaya bumi ini meletus seperti bom nuklir sejak awal kejadiannya. Sebab di perut bumi terjadi interaksi zat-zat nuklir dan kimia yang maha dahsyat. Demikian pula ditemukan beberapa retakan di daratan, hanya saja tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang terdapat di dasar samudra.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Para ulama belum mengetahui realita alam yang mena’jubkan dan dipakai Allah Ta'ala bersumpah sejak 14 abad silam tersebut kecuali pada awal paruh kedua abad duapuluh. Yaitu semenjak mereka menyelami dasar semua samudra dengan peralatan canggihnya dan melukis peta untuk semua retakan tersebut pada tahun 1965 M. Sungguh Maha Suci dan Agung yang berfirman:
]وَمَا كَانَ هَـذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَى مِن دُونِ اللّهِ وَلَـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لاَ رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ[ يونس:37
“Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. Yunus: 37)
Allah Ta'ala berfirman:
]وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ[ الطور:6
“dan demi laut yang di tanahnya ada api.” (QS. At-Thur: 6)
Realita ilmiyah:
Pasca perang dunia kedua, para pakar oceanografi menemukan jaringan retakan yang luar biasa yang membelah mayoritas dasar samudra. Dan yang lebih mencengangkan lagi, bahwa retakan-retakan tersebut mencurahkan jutaan ton cairan batu yang menyala dalam derajat panas sangat tinggi yang mencapai ribuan derajat celcius. Maka tampaklah kumpulan api maha dahsyat di bawah permukaan air. Lebih mengagumkan lagi, bahwa air dengan jumlah yang luar biasa banyak tersebut tidak mampu memadamkan bara api yang sangat panas tersebut. Demikian pula sebaliknya, bara api yang maha dahsyat tersebut tidak mampu membakar dan menguapkan air di atasnya.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala bersumpah dengan sesuatu yang menggetarkan bangsa Arab sewaktu turun wahyu dan juga para pakar spesialis oceanografi saat mereka menyelami dasar samudra, mereka menemukan banyak sekali bara api maha dahsyat yang menyala di dasar mayoritas samudra. Sedangkan magma yang muncrat via retakan-retakan tersebut amat panas membara tapi tidak menyala seperti halnya api kompor. Ini mengindikasikan arti ethimologis kata “masjur”, yakni air yang di bawahnya ada api membara.
Manusia merasa kagum dengan Nabi r yang ummi tersebut, dari mana beliau dapatkan akurasi bahasa dan ilmiyah seperti ini? Semua itu tiada lain karena sambungan wahyu dari Allah Ta'ala pencipta langit dan bumi yang telah berfirman:
]قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا[ الفرقان:6
“Katakanlah: "Al Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. AlFurqan: 6)
Allah Ta'ala berfirman:
]فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ * الْجَوَارِ الْكُنَّسِ[ التكوير: 15-16
“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang * yang beredar dan terbenam.” (QS. At-Takwir: 15-16) sebagian mufassir menafsiri al-khunnas dengan bintang-bintang yang tersembunyi, sedangkan al-jawari alkunnas dengan bintang-bintang yang lari kencang luar biasa dan menyapu.
Realita ilmiyah:
Pada akhir abad 20, para pakar ilmu astronomi menemukan beberapa benda langit yang mereka namakan “The Black holes (lubang-lubang hitam)”. Benda ini berputar pada porosnya dengan kecepatan luar biasa dalam sepersekian detik. Benda ini memiliki kepadatan materi amat tinggi hingga mencapai trilyunan ton dalam setiap 1 cm3 (satu sentimeter kubik)nya. Telah terungkap bahwa benda ini memiliki kekuatan luar biasa untuk menelan setiap benda yang melewatinya; baik itu debu, gas ruang angkasa dan berbagai benda langit lainnya. Pendek kata, benda ini menyapu bersih setiap benda yang ada di sekitarnya. Dinamakan hitam, karena gelap tak terlihat sama sekali dan sinar tidak mampu menembus sisi gravitasinya. Lubang hitam ini ditengarai telah berusia senja dalam gugusan bintang-bintang raksasa di angkasa.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala bersumpah dengan bintang tertentu dengan ciri-ciri yang spesial. Yaitu bintang-gemintang yang tersembunyi dan berpredikat menyapu benda sekitarnya. Khonnasa dalam bahasa berarti pergi secara sembunyi dan tidak terlihat. Sedangkan kata “al-jawaari” berarti lari dalam sumbunya. Adapun kata “al-kunnas” berarti menyapu sesuatu dari permukaan sesuatu. Dari kata tersebut, muncul “kansul bait” yang berarti menyapu debu dari permukaan tanah rumah itu.
Di sini kita mendapati bahwa Allah bersumpah dengan ciri tertentu sebuah bintang. Dan ternyata ciri-ciri tersebut sesuai dengan temuan para astronom mutakhir. Mereka menyingkap hal tersebut dan menamainya dengan tsuquub sauda’ (the black holes). Benda ini tidak kelihatan sebab hitam pekat dan berlari dengan kecepatan luar biasa. Benda ini juga menyapu bersih benda-benda langit yang mengorbit di dekatnya. Sungguh Allah Maha Suci yang telah berfirman:
]إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ * وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ[ ص:87-88
“Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita AlQur'an setelah beberapa waktu lagi.” (QS. Shod: 87-88)
Allah Ta'ala berfirman:
]وَالسَّمَاء ذَاتِ الرَّجْعِ[ الطارق:11
“Demi langit yang mengandung hujan,” (QS. At-Thariq: 11)
Realita ilmiyah:
Ilmu meteorologi modern telah menyingkap beberapa rahasia ghilaf jawwi (atmosfer) di langit bumi dan perlindungannya terhadap bumi disamping manfaat lainnya banyak sekali, yang diantaranya adalah:
1) Penolak bagian luar atmosfer yang mengembalikan sinar ultraviolet dengan menggunakan bantuan lapisan ozon.
2) Menolak dan mengembalikan berbagai gas, asap dan debu yang berterbangan dari permukaan bumi.
3) Mengembalikan getaran udara (berbagai suara dan pantulannya).
4) Memantulkan panas ke bumi dan dari bumi ke angkasa lewat awan.
5) Mengembalikan sinar bumi via zona sinar dan zona magnit ke bumi.
6) Memantulkan gelombang radio via zona beban yang amat kuat (yang berada di lapisan ionosfer).
7) Mengembalikan air (terjadinya siklus air hujan).
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala Yang Mahakaya bersumpah dengan langit yang memiliki zona pantulan. Para pakar tafsir terdahulu ‘rahimahumullah’ menafsirkan “raj’us-sama’” dengan arti hujan. Sebab kata “ar-raj’u” terlahir dari kata kerja “raja’a” yang berarti kembali dan pulang. Sebagian lagi menafsirkannya dengan arti pantulan suara. Pada puncaknya, ilmu modern menguak banyak sekali arti “raj’us-sama’” yang kesemuanya kembali kepada arti; semua hal bermanfaat yang kembali kepada kita dan memulang balikkan dari kita segala hal yang membahayakan. Semua artian ini terlahir dari kata “raja’a”. Sungguh Allah Maha Suci yang berfirman:
]إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ * وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ[ ص:87-88
“Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita AlQur'an setelah beberapa waktu lagi.” (QS. Shod: 87-88)
Allah Ta'ala berfirman:
]وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا[ النبأ:7
“dan gunung-gunung sebagai pasak,” (QS. An-Naba’: 7)
Realita ilmiyah:
Di akhir periode abad yang lalu, ilmu geologi menyingkap berbagai realita ilmiyah sekitar struktur gunung dan tugas utamanya. Mengenai strukturnya, sekitar 40 tahunan yang lalu telah diketahui bahwa gunung-gunung itu adalah benjolan di atas permukaan bumi yang ketinggiannya antara 320-6100 m saja. Tapi ilmu modern menambahkan devinisi tersebut dengan karakteristik lain yaitu, bahwa gunung-gunung itu memiliki akar yang menghunjam ke bumi antara kelipatan 10-15 dari ketinggiannya di atas permukaan bumi. Adapun tugas gunung-gunung tersebut –menurut realita ilmiyah modern- adalah untuk mengokohkan kerak bumi.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Di sini Allah Ta'ala menjelaskan dua sifat istimewa bagi gunung, yaitu bentuknya dan penjelasan tugas utamanya. Dua sifat ini terangkum dalam kata “autaadaa”, yaitu bahwa gunung-gunung itu memiliki bagian yang menghunjam dalam perut bumi seperti layaknya tiang. Sedangkan peran utamanya adalah untuk menguatkan dan mengokohkan kerak bumi -sebagaimana fungsi tiang dalam sebuah kemah- agar bumi tidak bergoyang dan bergetar yang pada akhirnya layak untuk pembangunan di atasnya. Hal tersebut dikukuhkan dengan firman Allah:
]وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ[ النحل:15
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kalian, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 15)
Dua sifat gunung ini belum terkuak kecuali di akhir abad yang lalu. Benar-benar Allah Maha Suci yang telah berfirman:
]وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ[ النمل:93
“Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepad kalian tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kalian akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kalian kerjakan." (QS. An-Naml: 93)
Allah Ta'ala berfirman:
]أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ[ النور:40
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS. An-Nur: 40)
Realita ilmiyah:
Sungguh para pakar oceanografi telah berusaha menyingkap berbagai rahasia lautan dan mengeksploitasi kekayaannya sejak awal sejarah. Tapi tekanan air yang luar biasa menghalangi mereka untuk menyelam di kedalaman lebih dari 45 meter di bawah permukaan air. Pada pertengahan abad lalu (abad 20), mereka mulai membuat alat penyelam khusus untuk mengarungi kedalaman tersebut. Ternyata mereka menemukan berbagai realita yang sangat menakjubkan, di antaranya:
1) Adanya tahapan kegelapan di dalam lautan sampai jarak 300 m. Setelah itu tidak ada cahaya sama sekali dan semuanya gelap pekat.
2) Terdapat banyak gelombang dalam lautan yang jauh melebihi gelombang yang ada di permukaannya.
3) Ditemukan banyak sekali ikan-ikan dan species lainnya di kedalaman tersebut yang mengeluarkan sinar dari dirinya sendiri hingga ia bisa melihat segala sesuatu di sekitarnya.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Allah Ta'ala mengumpamakan aneka kegelapan dalam kehidupan orang-orang kafir yang tidak mematuhi perintah-perintahNya dengan kegelapan lautan yang amat dalam. Semakin dalam semakin bertambah pekat dan terdapat berbagai gelombang di dalamnya di bawah gelombang permukaannya. Realita dan hakekat ini belum tersingkap kecuali di era kemajuan ilmu pengetahuan. Kemudian Allah memberi isyarat dengan firmannya: وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّور “(dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun .” dan para mufassir menafsirkan kata “nur” dengan arti cahaya iman dan hidayah. Penafsiran ini memang benar, tapi sebelumnya adakah orang yang mengira ada makhluk hidup yang berada dalam lautan yang diberi Allah cahaya secara hakiki untuk penerang jalannya dalam kegelapan dasar lautan tersebut?. Sungguh Allah benar-benar Maha Suci yang telah berfirman:
]كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ[ فصلت: 3
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui." (QS. Fusshilat: 3)
Allah Ta'ala berfirman:
]وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا * أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا وَمَرْعَاهَا[ النازعات:30-31
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya..” (QS. An-Nazi’at: 30-31)
Realita ilmiyah:
Ilmu geologi modern menyingkap dan membuktikan bahwasanya bumi adalah planet yang paling kaya akan sumber air. Di bumi terdapat 14.000.000.000 meter kubik air. Sejak dahulu para pakar bertanya-tanya, dari mana datangnya jumlah air yang amat banyak tersebut? Ketika mereka meneliti berbagai asap dan gas yang bertebaran naik dari lubang kepundan (kawah) gunung berapi, ternyata mayoritas adalah asap air yang tidak kurang dari 70 persennya. Sedangkan asap air tersebut jika dihitung dengan rata-rata letusan gunung tiap tahun dikalikan dengan usia bumi dalam jumlah yang dimuntahkan gunung berapi, maka akan kita dapati angka yang sangat dekat dengan prosentase air yaitu 71 %. Perbandingan air dengan luas bumi 71%. Perbandingan jumlah air di tubuh manusia juga 71%. Demikian pula perbandinga jumlah air dalam berbagai gas yang dilepaskan kawah gunung berapi juga 71%. Demikian halnya gas kedua terbanyak yang keluar dari gunung berapi yakni gas CO2 juga sebanyak angka itu.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا kata “ad-dahwu” secara ethimologis berarti menggelar, membentangkan dan melemparkan. Pemberian sifat yang amat akurat bagi gunung berapi. Sedangkan “dahwun nu’amah” adalah sangkar tempat telurnya bukan berarti telur itu sendiri.
أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai arti kata “dahaahaa” maka beliau menafsirinya dengan, semua yang datang setelahnya. Sedangkan dhamir “haa” adalah kembali kepada bumi. Sungguh, realita ilmiyah terkini telah menguak bahwa seluruh air yang ada dipermukaan bumi adalah keluar dari perut bumi. وَمَرْعَاهَا adalah semua tumbuh-tumbuhan dan kandungan gizinya yang beraneka ragam di permukaan bumi dan terbentuk dari jumlah CO2 yang luar biasa banyaknya yang keluar dari perut bumi bercampur dengan energi yang bersumberkan panas matahari. Hal ini lebih dikenal dengan proses asimilasi.
Realita ilmiyah tersebut belum diketahui manusia kecuali beberapa tahun belakangan. Padahal telah dijelaskan secara detail oleh AlQur'an, tapi belum ada yang menangkap realita tersebut pada masa turun wahyu dan tiada pula pada abad-abad yang lalu.
Allah Ta'ala berfirman:
]فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ[ الأنعام:125
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’aam: 125)
Realita ilmiyah:
Penelitian lapisan udara dimulai pada akhir abad 17 M. Dan usaha ini bertambah intensive pada akhir abad 19 M dengan menggunakan pesawat dan balon udara (zeppelin). Dan beberapa puluh tahun belakangan terbuktilah bahwa kepadatan udara semakin berkurang setiap kita naik semakin ke atas. Karena tekanan bagian gas pembentuk udara semakin menipis di luar angkasa, maka badan kita tidak mampu mendapatkan oksigen yang cukup untuk keperluannya. Kemudian tugas-tugasnya menjadi tidak teratur dan manusia mengalami kesempitan dada dan sulit bernafas setiap kali dia naik sampai pada tahapan seperti tercekik dan pingsan jika melebihi ketinggian 22.000 kaki di atas permukaan laut.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Ayat mulia ini menjelaskan bahwasanya siapa saja yang diberi hidayah Allah Ta'ala maka Dia akan membuka hatinya masuk Islam. Dan sebaliknya orang yang dikhehendaki Allah sesat, maka dadanya akan sempit dan bahkan tertutup sama sekali untuk menerima keimanan dan segala kebaikan. Allah Ta'ala telah menyerupakan sempitnya dada orang yang sengsara dan celaka ini dengan dada orang yang mendaki langit dan berkurangnya kemampuan untuk bernafas step by step. Dikarenakan turunnya tekanan molekul oksigen di lapisan udara angkasa hingga mencapai tataran haraj karena oksigen tidak mampu menjalar ke darah manusia. Para mufassir menafsiri haraj dengan arti kesempitan dan sesak nafas luar biasa. Ini adalah penyerupaan yang amat sempurna antara kondisi abstrak (iman dan hidayah) dengan kondisi inderawi yang bisa dilihat realitanya dan caranya dengan meyakinkan di era sekarang. Padahal hal ini belum diketahui manusia pada saat turun ayat agung tersebut. Sungguh benar Allah Ta'ala yang berfirman:
]أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا[ النساء:82
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa’: 82)
Nabi r bersabda:
]لَمْ تَظْهَرِ الفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا ِبهاَ إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا[ رواه ابن ماجه
“Tidaklah nampak kekejian (zina dan perilaku sex abnormal lainya) di sebuah bangsa sehingga mereka mengiklankannya kecuali tersebar luas di kalangan mereka tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah menyerang bangsa-bangsa sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah)
Realita ilmiyah:
Ilmu mikrobiologi telah menyingkap beberapa virus amat lembut penyebab berbagai penyakit. Seperti AIDS, siphilis, gonorrhea, herez dan lainya. Virus ini berpindah tempat melalui aneka perbuatan keji seperti zina, homoseksual dan lesbian. Demikian pula, ia memiliki beberapa sifat khusus yang tidak bisa ditangkal dengan immunited (alat penangkal) dan ia hanya berpindah via alat kelamin. Dalam beberapa tahun belakangan penyakit-penyakit tersebut dikenal dengan nama singkatan STD.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Hadits yang agung ini menjelaskan kepada kita beberapa realita sekitar mikrobiologi dan kaitannya dengan kekejian, di antaranya:
1) Ucapan Nabi r yang maknanya: “sehingga mereka mengiklankannya.” Kita temukan dalam pertengahan abad yang lalu, bahwa dunia Barat telah mengiklankan zina via berbagai macam sarana; seperti majalah dan buku porno, chanel dan film porno, internet dan pasar-pasar khusus. Dengan demikian, maka terealisasi-lah pemberitaan Nabi kita Muhammad r.
2) Ucapan beliau yang artinya: “kecuali tersebar luas di kalangan mereka tha’un dan berbagai penyakit.” Puncak ilmu pengetahuan memberitahu kita adanya hubungan amat kuat antara tersebarnya zina dan bermacam penyakit waba’ seperti Aids, siphilis, gonorrhea, herez dan lainnya. Semua penyakit tersebut terbukti dengan meyakinkan hanya berpindah lewat kebiasan zina.
3) Ucapan beliau yang artinya: “yang belum pernah menyerang bangsa-bangsa sebelumnya.” Para pakar di bidang ini berkomentar, bahwa penyakit-penyakit itu selalu berubah macam dan keganasannya seiring perjalanan waktu, dan penyakit AIDS merupakan buktinya. Sungguh, Maha benar Allah Ta'ala yang telah berfirman:
]لِّكُلِّ نَبَإٍ مُّسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ[ الأنعام:67
“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kalian akan mengetahui." (QS. Al-An’aam: 67)
Allah Ta'ala berfirman:
]غُلِبَتِ الرُّومُ * فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ * فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنصُرُ مَن يَشَاء وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ[ الروم:2-5
“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi), Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Ar-Rum: 2-5)
Realita ilmiyah:
Ilmu modern telah menyingkap bahwa daerah terendah di atas permukaan bumi ini adalah daerah danau Tabaria yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama laut mati.
Para pakar sejarah mengkisahkan bahwa pada tahun 620 M telah terjadi peperangan besar antara bangsa Persia dan Romawi. Sedangkan bangsa Romawi menderita kekalahan fatal pada saat itu, sampai diyakini mereka tidak akan mampu membalas kekalahan besar tersebut. Tetapi dalam jangka 7 tahun, mereka mampu mengalahkan bangsa Persia di daerah laut mati. Bahkan pada tahun yang sama, kaum muslimin mengalahkan kaum musyrikin di lembah Badar.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Pada saat turun ayat agung ini kepada Rasulullah di Mekah tahun 620 M, adalah tahun kekalahan Romawi. Ayat ini turun bukan hanya untuk memberitahukan peperangan tersebut, tapi akan ada pertempuran besar lagi antara dua super power itu sebelum lewat 9 tahun dan akan dimenangkan oleh pihak Romawi. Dan lebih akurat lagi AlQur'an menetapkan tempatnya yaitu tanah terendah “adnal ardhi”. Demikian pula mengabarkan kebahagiaan kaum muslimin atas kemenangan mereka dalam perang Badar dengan pertolongan Allah Ta'ala.
Kata “adna” secara lughawi diartikan terdekat adalah benar. Sebab daerah laut mati terhitung dekat dengan jazirah Arabia. Tapi, kata “adna” juga bermakna tempat terendah. Pada saat ilmu mencapai puncaknya di era belakangan ini, tersingkap realita geografi dengan bantuan peralatan canggih bahwa daerah terendah di permukaan bumi adalah laut mati yang terletak - 400 m di bawah permukaan air laut.
Maka terbuktilah bahwa AlQur'an mampu memberitakan berbagai realita ilmiyah akurat karena wahyu yang diturunkan dari Rabb yang Maha Benar. Dia telah berfirman dalam KitabNya:
]قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا[ الفرقان:6
“Katakanlah: "Al Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.".” (QS. AlFurqan: 6)
Nabi r bersabda:
]مَا مِنْ دَاءٍ إِلاَّ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ مِنْهُ شِفَاءٌ إِلاَّ السَّام[ رواه مسلم
“Tidak ada suatu penyakitpun melainkan dalam habbah sauda’ ada kesembuhan kecuali maut.” (HR. Muslim)
Realita ilmiyah:
Pada tahun 1986 M, Dr. Ahmad al-Qadhi direktur Lembaga kedokteran Islam untuk pembelajaran dan riset di Florida USA telah mengadakan riset mengenai peranan habbah sauda’ dalam meningkatkan kemampuan alat pertahanan alamiah berdasarkan hadits agung ini. Dalam riset tersebut dibuktikan bahwa bertambahnya sel-sel getah bening jenis “T” membantu sel-sel pengekang penyakit sampai 72 %. Juga menambah aktivitas sel-sel pembunuh penyakit hingga 73 %. Kemudian berturut-turut ratusan riset ilmiyah berlanjut di seluruh dunia sampai menyingkap sebuah realita bahwa habbah sauda’ bisa memperkuat sel-sel alat pertahanan alamiah dan membantu dalam mengobati banyak sekali jenis penyakit.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Para ulama berbeda pendapat tentang maksud “Syifaa’un min kulli daa’in” dalam hadits lain riwayat Al-Bukhari. Ada yang berpendapat, menyembuhkan sebagian penyakit saja dan ada pula yang berpendapat menyembuhkan semua penyakit kecuali kematian. Sedangkan riset-riset ilmiyah modern telah menemukan bahwa alat pertahanan tubuh mampu memberikan pengobatan yang amat akurat dan spesial bagi setiap penyakit yang menyerang tubuh. Yaitu dengan cara lebih mengaktifkan alat pertahanan alamiah yang terkandung dalam sel-sel getah bening yang memproduksi zat penolak dan pembunuh khusus bagi tiap-tiap penyakit. Dan dengan ditemukannya bahwa habbah sauda’ memiliki pengaruh besar dalam mengaktifkan dan menguatkan alat pertahanan hebat ini, maka bisa dikatakan bahwa habbah sauda’ itu penyembuh semua penyakit tergantung besar dan kecilnya karakter setiap penyakit tersebut selain kematian.
Allah Ta'ala berfirman:
] وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا[ الفرقان: 53
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. AlFurqan: 53)
Realita ilmiyah:
Telah tersingkap jelas dari berbagai riset modern terhadap air lautan dan sungai. Bahwasanya air itu terbagi menjadi 3 bagian; air sungai yang amat tawar, air laut yang sangat asin dan air di muara yang agak asin (karena campuran antara air asin dan tawar). Zona ini merupakan pemisah antara sungai dan lautan yang selalu bergerak mengikuti pergerakan pasang dan surut air.
Pemisah air ini terdapat di muara yang memelihara ciri-ciri khas tersendiri bagi masing-masing air laut dan sungai, membatasinya hingga tak tercampur. Dan nantinya menghasilkan percampuran secara perlahan sehingga mampu memelihara ciri khasnya masing-masing. Sedangkan spesies yang hidup di dalamnya tertahan tidak mampu keluar ke air sebelahnya, karena jika ia keluar maka akan menemui kematian.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Para pakar oceanografi telah menyingkap realitas lain dari dunia lautan, yaitu sebuah realita ilmiyah yang telah disebutkan secara detail oleh AlQur'an 14 abad yang lalu via lisan Nabi kita yang belum pernah mengarungi lautan. Rasulullah menginformasikan bahwa terdapat pemisah antara dua lautan, yang satu tawar dan segar sedangkan yang lain asin memahit. Pemisah ini sendiri memiliki berbagai ciri khas yang berbeda dengan air laut dan sungai dari segi kadar asinnya, intensivitasnya, derajat panasnya dan spesies yang hidup padanya. Dan terbukti bahwa spesies-spesies tersebut mati jika berpindah ke air sebelahnya.
Realita ini belum tersingkap kecuali pada dekade awal abad yang lalu. Sungguh, Maha Agung Allah Ta'ala yang telah menguatkan RasulNya dengan mu’jizat yang tidak terikat dengan waktu dan tempat, akan tetapi kekal sampai hari Kiamat sebagai saksi atas kebenarannya . Rabb kita telah berfirman berkenaan dengan hal tersebut:
] وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [ الحج:54
“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. AlHajj: 54)
Allah Ta'ala berfirman:
] كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ [ العلق:5-6
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi berbuat salah.” (QS. Al-‘Alaq: 5-6)
Realita ilmiyah:
Pada tahun 1842 M manusia mulai mengetahui tugas utama tulang depan kening, yaitu ketika salah seorang karyawan rel kereta di Amerika terkena sepotong besi dan menusuk dahinya. Hal tersebut kemudian mempengaruhi tindak-tanduknya tapi tidak membahayakan tugas anggota badannya yang lain. Maka mulailah para dokter mengetahui tugas cuping bagian depan dari otak dan hubungannya dengan tindakan manusia. Prof. Keith El-More berkomentar berdalih dengan peristiwa ilmiyah tersebut: “Berbagai data yang telah kami ketahui dari tugas otak tersebut belum disinggung sepanjang sejarah dan tidak kami temukan sedikitpun dalam buku-buku kedokteran,” sedangkan kedokteran masakini menyingkap tugas cuping bagian depan dahi yang memegang komando perbuatan manusia dan mewakili kepribadiannya seperti jujur atau bohong, benar atau salah dst. Disamping membedakan sebagian sifat dengan sebagian yang lain juga penganjur manusia untuk bersegera bertindak, baik itu dalam kerangka kebaikan atau keburukan.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Prof. Keith El-More pernah berkomentar: “Jika saja kita datangkan seluruh buku-buku kedokteran mulai dari era Nabi sampai abad-abad berikutnya, kita tidak akan mendapatkan penyebutan keterangan mengenai tugas cuping bagian depan ubun-ubun. Dan tidaklah ada keterangan tentang hal itu kecuali dalam kitab AlQur'an mulia tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa hal itu termasuk ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Juga mempersaksikan bahwa Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Para tokoh besar pakar tafsir terpaksa menakwilkan teks yang jelas tersebut, karena mereka belum mengetahui rahasianya. Dengan tujuan agar AlQur'an senantiasa terpelihara dari pendustaan orang-orang yang tidak tahu di masa lampau. Sedangkan kita bisa melihatnya dengan amat jelas dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, bahwa ubun-ubun (bagian depan otak besar) itu merupakan sentra komando dan pengarahan dalam diri manusia dan juga hewan. Oleh karenanya Allah Ta'ala berfirman:
] مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [ هود:56
“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus." (QS. Hud: 56)
Siapakah gerangan yang memberitahu rahasia dan realita ilmiyah ini kepada Muhammad dari sekian warga dunia lainnya? Sungguh hal itu adalah ilmu Allah yang tidak akan tertimpa kebatilan dari arah depan atau belakang. Ilmu yang mengandung persaksian dari sisiNya bahwa AlQur'an itu benar-benar datang dariNya, karena turun berdasarkan ilmuNya. Sungguh, Maha Agung Allah Ta'ala yang telah menguatkan RasulNya dengan mu’jizat yang tidak terikat dengan waktu dan tempat, akan tetapi kekal sampai hari Kiamat sebagai saksi atas kejujurannya . Rabb kita telah berfirman berkenaan dengan hal tersebut:
] وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [ الحج:54
“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. AlHajj: 54)
Nabi r bersabda:
]مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى[ رواه البخاري ومسلم وغيرهما
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah bagaikan sebuah badan, jika salah satu anggota kesakitan maka seluruh anggota lainnya saling memanggil dengan begadang dan demam.” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya)
Realita ilmiyah:
Pelbagai riset ilmiyah yang intensive dan berkesinambungan telah mengungkap banyak sekali realita yang amat mencengangkan mengenai interaksi badan manusia dalam menghadapi marabahaya saat terluka atau sakit. Demikian pula telah ditemukan garis-garis pertahanan dan berbagai tugas pelulusan yang terjadi saat salah satu anggota tubuh menderita sakit atau terluka. Pelulusan-pelulusan yang sepadan dengan tingkat penderitaan anggota sesuai paketnya. Maka, kadar sakit yang menimpa anggota sesuai dan pas dengan arahan energi badan yang tugasnya untuk mencegah pembusukan penyakit yang pertama dan merealisasikan kesembuhan secara sempurna yang kedua. Dan yang amat menakjubkan, para pakar Barat menamai urat syaraf yang berinteraksi ketika badan menderita dengan sebuah nama yang menjelaskan cara kerja sistem dan urat tadi dengan SYMPATHETIC yang terjemahan bebasnya berarti saling mencintai, saliang menyayangi dan saling mengasihi.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Dalam hadits agung ini, Rasulullah mensifati apa yang terjadi dalam tubuh dengan redaksi bersyarat yang pendek. Yaitu, ungkapan syaratnya adalah “mengaduh” dan jawaban syaratnya adalah “saling memanggil”. Syakwa “pengaduan” adalah pemberitahuan dan mohon bantuan dari suatu bahaya dan bencana yang menyakiti sang penderita. Dan pengaduannya ditujukan ke bagian yang diyakini kuasa mengendalikan perkara dan mampu menyelamatkan pengadu. Bahasa Arab tak memiliki lafazh lain yang bisa digunakan untuk menyifati realita tugas alat tersebut. Demikian pula, dalam bahasa Arab tidak ada kata selain itu yang pantas untuk menerjemahkan nama yang dikemukakan ulama Barat atas sistem mereka namai “sympathetic” yang menjelaskan tugas hakikinya. Dari realita apa yang mereka saksikan dan singkapkan tersebut, ternyata apa yang mereka terangkan itu sesuai persis dengan apa yang dijelaskan Rasulullah. Sedangkan nama yang mereka sebut merupakan terjemahan kata-kata yang telah disebutkan hadits. Allah Ta'ala berfirman:
] وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى [ طه:3-5
“...dan tiadalah dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,” (QS. Toha: 3-5)
Allah Ta'ala berfirman:
] وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ * ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ * ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ [ المؤمنون: 12-14
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun: 12-14)
Realita ilmiyah:
Sebelum muncul mikroskup kwadrat belum ada sarana yang bisa digunakan untuk memonitor fase-fase awal penciptaan manusia. Karena proses penciptaan manusia selalu menyedot banyak perhatian para peneliti. Riset-riset pada permulaannya menggunakan metode gambaran perkiraan saja karena minimnya sarana canggih dan maju saat itu. Setelah ditemukannya mikroskup pada abad 18, penelitian mulai sedikit lebih akurat dan masih menggunakan gambaran perkiraan disamping alat-alat percobaan yang ada. Walaupun semakin banyak perhatian, tapi masih berdasarkan ilusi perkiraan dan jauh dari keseksamaan serta belum sampai kepada gambaran akurat tentang penciptaan janin kecuali hanya pada abad 20 dengan menggunakan berbagai peralatan modern.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
AlQur'an telah jauh lebih dahulu dalam melukiskan fase perkembangan janin dengan gambaran yang belum mampu dilakukan para pakar spesialis embriologi. Karena buku-buku kedokteran menuturkan fase-fase tersebut dalam 38 minggu dengan disertai angka-angka yang kurang berarti. Sedangkan AlQur'an berada di puncak tertinggi dalam memaparkan fase perkembangan janin dalam 6 sifat yang akurat dan berbeda. Yaitu; nutfah, ‘alaqah, sekerat daging, penciptaan tulang, pembalutan tulang dengan daging dan bentuk yang berbeda. Maka, benar-benar Maha Agung Allah Pencipta yang terbaik.
Keith More pakar embriologi terkenal, dengan penuh kejujuran berkata: “Di sela-sela saya membaca ayat-ayat yang berbicara mengenai proses penciptaan manusia, jelaslah bagi saya bahwa semua itu datang kepada Muhammad dari Allah. Karena semua informasi ini tidak tersingkap kecuali baru saja setelah sekian abad berlalu. Dan ini mengukuhkan bagi saya bahwa Muhammad itu adalah benar-benar utusan Allah.”
Rabb kita telah berfirman mengenai hal tersebut:
]وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ[ سبأ:6
“Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Saba’: 6 )
Allah Ta'ala berfirman:
] مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ * بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ * فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ * يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ[ الرحمن:19-22
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 19-22)
Realita ilmiyah:
Pasca adanya kemungkinan memotret air laut dari angkasa via satelit, pesawat ruang angkasa dan pesawat udara di akhir abad lalu, para ulama menemukan bahwa air sebuah laut itu tidak sama. Ada kumpulan-kumpulan air yang saling berdampingan dalam jarak yang amat luas. Pada saat mereka menelitinya, maka mereka mendapatkan perbedaan sifat alami dan unsur kimia air tersebut. Dan dalam setiap kumpulan air terdapat bermacam-macam corak kehidupan, endapan dan spesies yang berbeda. Padahal kumpulan-kumpulan air tadi saling bertetangga tapi selamanya tidak bisa bercampur secara keseluruhan. Pada setiap lingkungan memiliki corak kehidupan tersendiri berbeda dengan yang lain. Ulama menafsirinya fenomena ini dengan adanya rasa asin dan proses ionisasinya yang memiliki arus positive dan negative yang pada akhirnya menjauhi arus-arus serupa dari air sebelahnya. Hal inilah yang membentuk pembatas yang tidak diketahui dengan kasat mata. Pembatas ini berbentuk vertikal dan horizontal dalam kumpulan air sebelahnya.
Wajhul i’jaz (letak mu’jizat):
Para pakar oceanografi di era satelit ini menyingkap adanya pembatas antar kumpulan-kumpulan air asin. pembatas ini mencegah percampuran langsung antar masing-masing kumpulan air sehingga tidak akan melebur menjadi satu dan menghilangkan ciri khas masing-masing.
Realita ini telah disebutkan AlQur'an 14 abad yang lalu melalui lisan Rasulullah. Dalam beberapa ayat di surat Ar-Rohman kita temukan dengan lebih detail lagi tentang realita ini. Dulu para pakar tafsir menafsirinya dengan “pembatas dari kekuasaan Allah yang tidak terlihat.” Tafsiran ini benar, tapi memang ada wujudnya. Dan ilmu modern dengan peralatan terbaru yang canggih mampu menyingkap pembatas tersebut. Sekali lagi, membuktikan sikap ilmu pengetahuan yang mempersaksikan kebenaran risalah Nabi kita Muhammad di era kemajuan ilmu duniawi. Sungguh, Maha Agung Allah yang telah berfirman:
]وَمَا كَانَ هَـذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَى مِن دُونِ اللّهِ وَلَـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لاَ رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ [ يونس:37
“Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. AlFurqan: 6)