Tabarruk Yang Boleh dan
Yang Dilarang
Tabarruk
artinya mencari barakah (ngalap berkah, jawa). Bertabarruk dengan sesuatu
artinya mencari berkah dengan perantaraan sesuatu tersebut. (Lihat an-Nihayah
fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir bab al Ba' ma'a al Ra', 1/120)
Tidak diragukan lagi bahwa barakah dan kebaikan ada di tangan Allah subhanahu
wata’ala. Dia terkadang mengkhusus
kan pada sebagian
makhluk-Nya dengan memiliki keutamaan tertentu dan barakah. Barakah pada
dasarnya adalah ungkapan untuk sesuatu yang tetap dan terus menerus, atau sering
digunakan untuk istilah sesuatu yang tumbuh dan berkembang.
Maka yang dimaksudkan dengan barakah di antaranya adalah:
1. Tetapnya kebaikan sesuatu dan kelanggengannya.
2. Banyak dan bertambahnya kebaikan, terus-menerus sedikit demi sedikit.
3. Tabaraka, yakni lafal khusus untuk Allah subhanahu wata’ala, yang
menurut Imam Ibnul Qayyim memiliki arti abadi keberadaan-Nya, tak terhingga
kebaikan, keagungan, ketinggian, kebesaran dan kesucian-Nya. Segala macam
kebaikan datang dari sisi-Nya, dan juga pemberian barakah dari Allah kepada
sebagian makhluk-Nya.
Di antara yang memiliki berkah adalah al-Qur'anul Karim, karena mengandung
kebaikan yang tak terhingga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga
memiliki berkah, dalam arti Allah subhanahu wata’ala menjadikan
keberkahan pada diri beliau. Barakah Rasulullah dapat bersifat maknawi, yakni
berupa risalah yang diembannya yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Dan juga
barakah secara fisik, yaitu berkah dalam segala perbuatan beliau yang di
antaranya berupa mukjizat, serta berkah dari anggota badan beliau.
Kita tidak memungkiri bahwa seluruh nabi dan para malaikat adalah membawa berkah,
demikian juga orang-orang shalih, namun kita tidak bertabarruk dengan mereka.
Kita tidak bertabarruk dengan mereka itu, semata-mata karena tidak adanya dalil
yang mensyari'atkannya hal tersebut, bukan karena memungkiri keberadaan barakah
pada mereka.
Demikiaan juga beberapa tempat yang memiliki barakah, seperti Masjidil Haram,
Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha kemudian masjid-masjid lain secara umum. Ada juga
sebagian waktu yang memiliki barakah seperti bulan Ramadhan, Lailatul Qadr,
Sepuluh pertama Dzulhijjah, hari Jum'at, bulan-bulan Haram, sepertiga malam
akhir dan lain sebagainya. Dan cara mencari barakahnya pun dengan melaksanakan
berbagai amalan yang disyari'atkan pada tempat-tempat dan waktu-waktu tersebut,
sedang keberkahannya tetap dimohonkan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Ada juga beberapa benda yang mengandung berkah, seperti air zam-zam, dan juga
air hujan karena dengan sebabnya tanaman tumbuh subur, manusia dan binatang
dapat minum dan menghasilkan berbagai buah-buahan. Juga pohon zaitun, susu, kuda,
domba dan kurma.
TABARRUK YANG
DISYARI’ATKAN
1. Bertabarruk dengan Dzikrullah dan Membaca al-Qur'an
Mencari barakah dengan al-Qur'an bukan dengan cara meletakkan mushaf al-Qur’an
di kamar, di rumah atau di dalam mobil agar mendatangkan keselamatan. Namun
mencari barakah di sini adalah berupa dzikir dengan hati, lisan serta
mengamalkan al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai tuntunan. Merupakan bentuk keberkahan
adalah ketenangan dan kekuatan hati untuk melakukan ketaatan, terbebas dari
berbagai macam kerusakan, memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, ampunan dari
dosa, turunnya sakinah dan kelak al-Qur'an akan menjadi syafaat pada hari Kiamat
bagi para pembacanya.
2. Bertabarruk dengan Diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika
Masih Hidup.
Ini dikarenakan diri (dzat) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah mubarakah (memiliki berkah), dan termasuk juga apa yang ada kaitannya
dengan beliau. Oleh karena itu kita dapati para sahabat bertabarruk dengan diri
beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu
bahwa para sahabat pernah mengambil berkah dengan cara memegang tangan Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengusapkan ke wajah-wajah mereka. Dan
ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada
minyak misik. (riwayat al-Bukhari dalam Kitab Manaqib, bab sifat Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam 4/200 no.3553).
Demikian pula diriwayatkan bahwa para sahabat bertabarruk dengan pakaian Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam , dengan air wudhu beliau, dengan sisa air
minum beliau. Mereka juga bertabarruk dengan benda-benda yang terpisah dari
beliau misalnya, rambut beliau dan segala sesuatu yang pernah dipakai oleh
beliau seperti baju, bejana, sandal dan lain sebagainya.
Bertabarruk dengan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat
dikiaskan pada orang lain selain beliau. Beliau tidak pernah memerintahkan
kepada sahabatnya untuk melakukan itu, dan tidak pernah ada di antara para
sahabat yang saling mengambil berkah terhadap sahabat-sahabat yang utama seperti
bertabarruk dengan Abu bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum dan
juga sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, padahal mereka adalah manusia
termulia sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .
Dengan demikian bertabarruk dengan dzat orang shalih dan para ulama adalah sama
sekali tidak disyari'atkan. Bertabarruk dengan mereka di antaranya dengan cara
mendengarkan nasehat mereka, minta doa mereka serta hadir dalam majlis-majlis
ilmu mereka. Dan inilah keberkahan dan kebaikan yang paling bermanfaat dan
terbesar.
3. Bertabarruk dengan Meminum Air Zam-Zam
Air Zam-Zam merupakan air yang paling baik dan utama di muka bumi, orang yang
meminumnya akan merasa kenyang dan bahkan mencukupi seseorang sekiranya dia
tidak memakan makanan. Dan meminumnya dapat diniatkan untuk mengobati penyakit,
karena air tersebut dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang
meminumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang air
Zam-Zam, artinya,
"Sesungguhnya dia mengandung berkah, makanan yang mengenyangkan dan obat bagi
penyakit." (HR. Muslim)
4. Mengambil Berkah Air Hujan
Tidak diragukan lagi bahwa air hujan adalah mubarak (diberkahi) karena Allah
subhanahu wata’ala mendatangkan keberkahan dengan hujan tersebut. Dengannya
manusia dan binatang memperolah minum, pepohonan tumbuh subur, menghasilkan
buah-buahan dan dengannya pula Allah membuat segala sesuatu menjadi hidup.
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Kami bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah kehujanan. Anas lalu
mengatakan, "Maka Rasulullah membuka sebagian bajunya sehingga terkena air hujan.”
TABARRUK YANG DILARANG
1. Bertabarruk dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Setelah Beliau
Wafat.
Bertabarruk dengan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau
wafat adalah tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal:
§ Pertama; Dengan beriman, taat dan ittiba' kepada beliau. Maka barang siapa yang melakukan itu semua dia mendapatkan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
§ Ke dua; Bertabarruk dengan peninggalan beliau yang telah terpisah dari beliau seperti pakaian beliau, rambut beliau, bejana atau tempat minum beliau dan lainnya yang masih terkait dengan diri beliau.
Dan selain yang demikian itu
tidaklah disyari'atkan. Tidak boleh bertabarruk dengan kubur beliau dan
melakukan safar khusus untuk tujuan ziarah kubur beliau. Kita disunnahkan
berziarah kubur beliau jika kita memang telah berada di Madinah atau ketika
ziarah Masjid Nabawi.
Adapun cara berziarah kubur beliau yang benar adalah; Apabila kita masuk masjid
Nabi, maka shalat tahiyatul masjid lalu menuju kubur beliau dan berdiri dengan
sopan menghadap kamar (ruang kubur) lalu dengan pelan dan sopan mengucapkan,
"Assalamu'alaika ya Rasulallah". Tidak boleh berdoa di sisi kubur beliau,
tidak boleh meminta syafa’at, mengusap kubur dan mencium dindingnya.
Tidak boleh bertabarruk dengan tempat yang beliau duduki, atau tempat yang
pernah beliau gunakan untuk shalat, jalan yang pernah beliau lewati, tempat
turunnya wahyu, atau bertabarruk dengan tempat beliau lahir, malam kelahirannya,
malam isra' mi'raj dan selainnya .
2. Bertabarruk dengan Orang Shalih
Tidak boleh bertabarruk dengan orang shalih, baik dengan dzatnya, bekasnya,
tempat ibadahnya, tempat berdirinya, kuburnya dan juga tidak boleh melakukan
perjalanan jauh untuk mengunjungi kuburnya. Tidak boleh shalat di samping
kuburnya, meminta berbagai keperluan, mengusap, dan beri'tikaf di sisinya. Juga
tidak boleh bertabarruk dengan hari atau tempat kelahiran mereka. Barang siapa
melakukan itu untuk bertaqqarrub kepada mereka dengan keyakinan bahwa mereka
dapat memberikan manfaat dan madharat, maka dia telah berbuat syirik besar.
Sedangkan yang meminta keberkahan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan
perantaraan mereka, maka dia telah melakuakn bid'ah yang mungkar.
3. Bertabarruk Dengan Gunung dan Tempat Tertentu
Bertabarruk seperti ini bertentangan dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan dapat menyebabkan seseorang mengagungkan (mengeramatkan)
tempat-tempat tersebut. Tidak dibenarkan mengiaskan dengan Hajar Aswad, Ka'bah
dan mengusap rukun Yamani, karena ini merupakan ibadah yang bersifat
tauqifiyah(sebatas mengukuti dalil). Imam Ibnul Qayyim berkata, "Tidak ada
tempat di muka bumi ini yang disyari’atkan untuk dicium dan diusap selain Hajar
Aswad dan Rukun Yamani.”(Zadul Ma'ad 1/48)
Sehingga tidak dibenarkan seseorang mencium atau mengusap dinding masjid,
mencium maqam Ibrahim atau hijir Ismail, dan tidak boleh bertabarruk dengan gua
Hira' atau jabal Nur, sengaja shalat di
sana. Tidak boleh
bertabarruk dengan gua Tsur, Jabal Arafah (jabal Rahmah), Jabal Abu Qubais,
gunung Tursina dan secara umum tidak boleh bertabarruk dengan pohon-pohon,
batu-batu dan gunung gunung yang lainnya.
Di antara penyebab terjadinya tabarruk yang dilarang adalah bodoh tentang agama,
ghuluw (ekstrim) terhadap orang shalih, menyerupai orang kafir dan mengagungkan
tempat-tempat yang dianggap bertuah atau keramat. Wal ‘iyadzu billah.
Diringkas dari “Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah,” hal 118-133, Dr.
Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. (khalif) (SFBWZ)