Welcome Guest

Search:

» Index.php
TATA CARA MENGAGUNGKAN NABI BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIEM Segala puji hanya milik Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya dan bertaubat kepadaNya. Demikian pula kami selalu berlindung diri kepadaNya dari kejahatan jiwa dan perbuatan buruk kami. Siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang bisa menunjukinya. Saya bersaksi, tidak ada Tuhan yang disembah secara haq melainkan hanya Allah, tiada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad r itu adalah hamba Allah dan utusanNya. Shalawatullah semoga senantiasa dilimpahkan kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya dan segenap umat yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. a)- MENJELASKAN KEDUDUKAN NABI Tidak mengapa, menerangkan kedudukan beliau sambil memujinya dengan pujian yang diberikan Allah kepadanya dan menyebutkan kedudukannya yang diberikan Allah kepadanya serta meyakini hal tersebut. Hanya saja tidak boleh mengkhususkan hari tertentu, karena jika berbuat demikian maka sungguh kita terperosok ke lembah bid’ah (melakukan ajaran agama tanpa dasar dari Nabi r). Memang Nabi r memiliki kedudukan tinggi yang telah ditempatkan Allah baginya, yaitu “hamba Allah, RasulNya, pilihanNya dari semua makhlukNya dan secara mutlak beliau adalah makhluk yang paling afdhal”. Beliau merupakan utusan Allah untuk segenap manusia. Beliau adalah Rasul termulia dan penutup para nabi yang tiada lagi Nabi setelah beliau. Allah telah membedah dadanya -ingat peristiwa belah dada ketika beliau berada di kalangan Bani Sa’d- dan meninggikan namanya. Beliau adalah pemilik “maqam mahmud” (tempat terpuji) yaitu tempat yang Allah khususkan baginya untuk memberikan syafaat kepada seluruh manusia ahli tauhid pada hari kiamat. Beliau merupakan orang yang paling takut dan takwa kepada Allah dari seluruh makhluk yang pernah ada. b)- MENGAGUNGKAN SUNNAH NABI Termasuk salah satu bentuk pengagungan Nabi r adalah dengan mengagungkan sunnahnya dan berkeyakinan akan kewajiban mengerjakannya, karena sunnah-sunnah beliau adalah wahyu dari Allah semata. Allah berfirman: [dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) ] (An-Najm: 3-4) Oleh karena itu, tidak boleh membikin keraguan di dalam sunnah-sunnah beliau dan mencelanya ataupun bahkan menghinanya. c)- KEWAJIBAN MENCINTAI NABI DAN MENGAGUNGKANNYA Wajib bagi setiap hamba untuk mencintai Allah, yaitu sebuah bentuk ibadah yang paling agung. Setelah dia mencintai Allah, maka wajib mencintai Rasulullah. Karena beliau adalah seorang penyeru kepada Allah dan pemberitahu tentang syari’atNya. Makanya, cinta (mahabbah) kepada beliau adalah selalu menyertai cinta kepada Allah dan menempati rangking kedua (setelah cinta kepada Allah). Nabi r bersabda: “Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan diriku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia yang ada” (Muttafaq ‘Alaih) d)- TUNTUTAN-TUNTUTAN CINTA NABI Rasa cinta kepada beliau menuntut beberapa hal, di antaranya adalah: mengagungkannya, menghormatinya, mengikutinya, lebih mendahulukan ucapannya daripada seluruh ucapan manusia, mengagungkan sunnahnya, tidak memanggilnya dengan menyebut namanya tetapi dengan panggilan Ya Rasulallah atau Ya Nabiyallah, menaati seluruh perintahnya dan menjauhi seluruh larangan beliau r. e)- LARANGAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMUJI NABI Rasa cinta kepada Nabi r tidak boleh melampaui batas kewajaran hingga mencapai takaran ghuluw. Ghuluw dalam hak beliau adalah melampaui batas dalam menghormatinya dengan cara mengangkatnya di atas kedudukan ubudiyah (beliau hanyalah seorang hamba Allah) atau kedudukan risalah (beliau adalah seorang Rasulullah) atau menjadikan untuknya sesuatu yang khusus milik Allah hingga berdoa dan meminta kepadanya atau bersumpah dengan namanya. Demikian pula mahabbah tersebut tidak boleh mencapai tingkatan ithra’, yaitu berlebih-lebihan dalam menyanjung dan memujinya serta berdusta di dalamnya. Hal ini berdasarkan sabda beliau: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menyanjungku seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Isa putera Maryam. Sesungguhnya saya adalah seorang hamba, maka ucapkanlah: Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan utusan Allah)” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abdullah bin Syikhkhir r, dia berkata: “Suatu ketika saya ikut bergabung dalam delegasi Bani Amir pergi menemui Rasulullah r, lalu kami berkata: Anta sayyiduna (Anda adalah sayyid kami). Maka Nabi r bersabda: As-sayyid adalah Allah tabaraka wa ta’ala. Lalu kami berkata: dan Anda adalah yang paling mulia dan paling agung kebaikannya di antara kami. Maka beliaupun bersabda: “Ucapkanlan semua atau sebagian kata-katamu yang wajar bagi kalian dan janganlah terseret oleh setan” (HR. Abu Daud) Nabi r membenci sanjungan mereka dengan kata-kata: Anta sayyiduna, Anta afdhaluna dan Anta a’zhamuna, padahal beliau memang makhluk paling utama dan paling mulia secara mutlak, tetapi beliau melarang hal tersebut adalah demi menjauhkan umatnya dari tindakan ghuluw dan ithra’ dalam menyanjung dan memujinya dan juga -yang paling penting lagi adalah- untuk memelihara tauhid. Lalu beliau tunjukkan kepada mereka agar menggelarinya dengan dua buah sifat yang merupakan kedudukan hamba yang paling tinggi (jika digelari dengannya). Dalam dua buah sifat itu tidak mengandung ghuluw dan hal-hal yang membahayakan akidah. Dua buah sifat tersebut adalah Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan utusanNya). Nabi r tidak suka diangkat hingga melampaui kedudukan yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi ironisnya, banyak sekali umat Islam yang menyelisihi larangan beliau. Maka jadilah mereka malah berdoa kepadanya, memohon pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya dan meminta-minta kepada beliau hal-hal yang hanya Allah yang mampu mengabulkannya, yaitu sebagaimana yang mereka lakukan pada perayaan maulid Nabi, pembacaan kasidah-kasidah dan nyanyian-nyanyian tanpa membedakan antara hak-hak Allah dan hak-hak RasulNya. f)- SEBAB-SEBAB TIMBULNYA BID’AH 1-Kebodohan dan ketidak mengertian akan hukum-hukum dan ajaran-ajaran agama. 2-Memperturutkan hawa nafsu, karena berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman: [Maka pernahkah kalian melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya tersesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya tersesat)?] (Al-Jatsiyah: 23) 3-Ta’asub (fanatik) terhadap pendapat dan pribadi sebagian tokoh manusia. Allah berfirman: [dan jika dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah (Kitabullah dan Sunah Rasulullah)," mereka menjawab: “(Tidak mau), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.”] (Al-Baqarah: 170) 4-Menyerupai dan meniru orang-orang kafir. Hal ini merupakan sebab terbanyak yang menyeret ke lembah bid’ah. Adakalanya meniru tradisi mereka dan ataupun peribadatan mereka sesuai dengan ungkapan Nabi r : “Sungguh kalian akan meniti sunah orang-orang sebelum kalian (orang-orang Yahudi dan Nasrani)” (HR. Ahmad) Perayaan maulid (hari kelahiran) adalah bentuk tindakan meniru kaum Kristiani. Maka dari itu, kalangan kaum muslimin yang tidak mengerti atau sebagian ulama yang menyesatkan pada bulan Rabiul Awwal pada setiap tahun ramai-ramai merayakan maulid Nabi r. Di antara mereka ada yang merayakannya di masjid, di rumah atau di tempat-tempat lain yang khusus disediakan untuk hal itu. Maka berdatanganlah jumlah besar dari kalangan pemuka dan masyarakat umum. Mereka mengerjakan hal itu, sebagai tindakan meniru dan menyerupai orang Nasrani berbuat bid’ah dalam merayakan hari kelahiran Isa 'alahis salam. Pada umumnya, perayaan seperti ini adalah unsur tambahan di samping bid’ah dan menyerupai kaum kristiani juga tidak bebas dari unsur kesyirikan dan kemunkaran, seperti pembacaan kasidah yang mengandung ghuluw dan ithra’ dalam hak Nabi r, hingga sampai mereka berdoa dan memohon kepadanya bukan kepada Allah. Padahal beliau telah melarang keras hal tersebut sebagaimana dalam hadits di muka. Terkadang sebagian mereka ada yang berkeyakinan bahwa Nabi r datang dalam perayaan mereka dan tidak jarang mereka menabuh gendang dan mengucapkan dzikir-dzikir kaum shufi yang penuh dengan kebid’ahan. Demikian pula sering terjadi campur baur antara kaum Adam dan Hawa yang dilarang agama. Dan jika saja perayaan-perayaan tersebut bersih dari unsur-unsur terlarang di atas, -seperti kata mereka hanya berkumpul, makan-makan dan memperlihatkan suka cita,- tetap saja hal tersebut adalah bid’ah yang dibikin-bikin baru. Padahal setiap hal yang dibikin baru (dalam hal agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah tersesat. Demikian juga hal tersebut merupakan salah satu wasilah menuju kemungkaran-kemungkaran lain yang dihasilkan dan berkembang dalam perayaan-perayaan mereka. Jelaslah bagi kita sekarang, bahwa hal di atas adalah bid’ah yang tidak ada dasar dalilnya baik dari Qur’an, Hadits dan amalan para salaf kita dan generasi sahabat yang paling utama. Para sahabat –semoga Allah senantiasa meridhai mereka- adalah orang yang paling besar kadar mahabbahnya kepada Nabi r, jauh sekali jika dibandingkan dengan kadar mahabbah kita. Walau demikian, mereka tidak melakukan hal ini (perayaan maulid Nabi). Maka Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya tidak ada yang melakukannya. Tetapi sesungguhnya hal ini terjadi belakangan setelah abad keempat (4) Hijriyah, yang diberlakukan oleh orang-orang Batiniyyah yang mengatasnamakan diri mereka dengan Bani Fatimiyyah (ingat sejarah Daulah Bani Fatimiyah yang berkedudukan di Mesir). Imam Abu Hafs Tajuddin Al-Fakihani berkomentar: “Amma ba’du, telah berulang banyak sekali pertanyaan mengenai maulid. Adakah memiliki dasar dalam agama? Maka kujawab: ‘Wabillahit Taufiq, saya tidak mengetahui hukum dasar bagi perayaan ini, baik dari Qur’an atau dari Sunnah dan tidak ada riwayat dari para ulama salaf yang mereka semua merupakan panutan dalam beragama, mereka sangat berpegang teguh dengan riwayat-riwayat ulama pendahulunya. Tetapi perayaan itu adalah bid’ah yang diada-adakan oleh para ahli batil dan dorongan nafsu para tukang makan”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkomentar: “Demikian pula hal yang diadakan baru oleh sebagian umat. Adakalanya karena meniru kaum Kristiani dalam merayakan maulid (hari kelahiran) Isa 'alahis salam dan adakalanya karena rasa mahabbah dan pengagungannya terhadap Nabi, seperti menjadikan maulid Nabi r sebagai bentuk perayaan –padahal mengenai tanggal lahir Nabi ada peselisihan pendapat di kalangan pakar sejarah-. Dan sesungguhnya para salaf tidak ada yang melakukannya, jika memang mengandung kebaikan dan kebenaran niscaya mereka lebih berhak daripada kita (artinya mereka lebih dulu melakukannya), karena mereka jauh lebih sangat mencintai Nabi r dan mengagungkannya daripada kita serta sangat tamak dalam hal kebaikan. Tapi bentuk kecintaan dan pengagungan mereka adalah mereka buktikan dalam mengikuti Nabi r, menaatinya, melaksanakan perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara lahir dan batin, menyebarkan ajarannya dan berjihad dalam membela itu semua dengan hati, lisan dan tangannya. Ini merupakan jalan para pendahulu kita, baik dari kalangan Muhajirin, Anshar dan ataupun orang-orang yang mengikuti mereka.” Dalam rangka mengingkari bid’ah tersebut, telah dikarang berbagai kitab dan artikel baik yang lama ataupun yang baru. Maulid adalah suatu tambahan yang merupakan bentuk bid’ah dan penyerupaan juga akan menuntun pelakunya kepada mengadakan perayaan-perayaan maulid-maulid yang lain, seperti maulid para wali, para kyai dan para tokoh terkenal lainnya. Dan pada akhirnya akan membuka berbagai pintu keburukan dan kejelekan yang tidak sedikit jumlahnya. Demikian, mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan taufiq, inayah dan hidayahNya kepada kita semua. Hingga kita dapat meniti jalan Nabi r dan mengikuti sunnahnya yang pada gilirannya akan membimbing kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat, Amin ya Rabbal ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi kita r, segenap keluarga dan sahabatnya serta para peniti jalan sunnah hingga hari kiamat.